Indahnya Berbagi Untuk Kebersamaan

ILUSKA (Ikatan Alumni SMK Kartini) & Komunitas Liverpool Batam ke Pulau Bertam.

Bertam dahulu kala

Bertam dahulu

Bertam adalah salah satu pulau kecil dari ribuan pulau yang ada di Kepulauan Riau, daerah kecil ini termasuk bagian dari kota Batam yang berada di dalam kecamatan Belakang Padang. Penghuni pulau –pulau kecil itu sering disebut warga suku laut dikarenakan tempat tinggal mereka memang diatas laut (diatas sampan) dan juga pekerjaan yang mereka tekuni sehari-hari adalah melaut alias nelayan.
Pulau Bertam termasuk pulau berpenghuni suku laut yang lebih maju dibandingkan pulau lain di sekitarnya seperti Pulau Gara, Pulau Linka, Pulau Kasu, dan Pulau Seraya, itu ditandai dengan telah dibangunnya Sekolah Dasar yang sudah berjalan beberapa tahun ini jadi jika warga suku laut di Pulau lain ingin bersekolah mereka harus mendayung sampan setiap pagi dan siangnya untuk belajar di Pulau Bertam..

Perjalanan ke Bertam

Untuk dapat mencapai pulau Bertam tidaklah sulit hanya dengan menggunakan kapal kecil (pancung) dengan waktu tempuh lebih kurang 20 menit kita bisa sampai ke pulau ini. Tapi tidak ada rute khusus untuk menuju pulau ini karena trafik perjalanan ke pulau ini jarang sekali mungkin hanya dilewati jika ada keperluan mendesak saja makanya jika ingin kesana kita harus siap keluar uang untuk menyewa 1 pancung untuk mengantarkan kita ke tempat tersebut.
Saat ini (menurut catatan kami, sampai tanggal 23 Februari 2013) terdapat 42 KK yang mendiami pulau Bertam dengan total 130 jiwa diantaranya adalah balita sebanyak 21 orang, dan anak yang bersekolah di pulau Bertam sebanyak 55 orang anak diantaranya adalah kelas I sebanyak 17 anak, kelas II 11 anak, kelas III 9 anak, kelas IV 7 anak, kelas V 6 anak dan kelas IV ada 5 orang anak, mereka di bimbing oleh 3 orang guru 2 orang dari pulau Bertam dan 1 orang dari pulau Kasu.
Pulau Bertam sering mendapat bantuan dan sumbangan baik dari pemerintah, lembaga maupun umum bantuan-bantuan tersebut berupa makanan, uang serta alat tulis.

Ibu Sri Soedarsono

Ibu Sri Soedarsono yang akrab di panggil Ibu Dar turut punya andil besar dalam memajukan pendidikan dan kesejahteraan di pulau Bertam ini, kenapa tidak setiap tahunnya Ibu Dar beserta anggotanya tidak pernah lupa untuk menyempatkan diri untuk datang ke beberapa pulau untuk memberikan bantuan, dari beberapa pulau yang sering di datanginya pulau Bertam lah yang paling mendapat perhatian lebih dan otomatis mendapat bantuan yang lebih pula. Di tangan beliau warga suku laut yang tadinya makan, tidur dan mencari nafkah diatas sampan dan tidak mengenal pendidikan sekarang sudah memiliki tempat tinggal yang cukup layak bagi mereka walaupun rumahnya masih berupa kayu dan di topang diatas laut tetapi tetapi ini merupakan kemajuan yang sungguh berarti. (wah hebat ya Buk Dar, sungguh mulia hatimu).

Kemuliaan hati tersebut tidak hanya dimiliki oleh Ibunda Sri Soedarsono sendiri ternyata hal itu menurun ke anak didiknya,

Komunitas Liverpool & Iluska Batam

yah inilah sebuah wadah yang menampung alumni-alumni SMK Kartini Batam yang diberi nama ILUSKA (Ikatan Alumni SMK Kartini) Batam. Ini adalah kali ke 2 ILUSKA datang dengan tangan di atas untuk memberikan bantuan, kedatangan yang ke 2 ini ILUSKA tidak sendiri, mereka juga menggandeng komunitas yang terdiri dari anak-anak muda yang mengatasnamakan diri mereka pencinta Club Sepak Bola Liverpool.

 

 

Perjalanan menuju pulau Bertam…..

Bertam sekarang

Kedatangan di Pulau Bertam

Yah beginilalh keadaan pulau Bertam sekarang, tenang, nyaman , dan sejuk udaranya,  ketika kami datang mereka sangat senang sekali tergambar di mata mereka bahwa sedang menanti kedatangan kami melihat kesenangan dari wajah mereka merupakan satu kebahagiaan yang teramat dalam,  sungguh…  betapa Indahnya Berbagi Untuk Kebersamaan.

Terlihat anak-anak sedang bersekolah dan sedang dibariskan oleh gurunya di depan sekolah, inilah wajah anak-anak yang mengeyam pendidikan di Pulau Bertam,  sekilas tidak ada beda dengan keadaan anak-anak lain tapi jika kita lihat lagi ke belakang bagaimana dulu anak-anak ini sekolah tanpa seragam dan alas kaki, dan bagaimana mereka membantu ayahnya mencari ikan di laut, kalau diceritakan  sungguh menjadi suatu cerita yang mengharukan. Bantuan berupa sembako, tas dan alat-alat tulis yang diberikan mungkin kecil bagi kita tapi sangat berguna dan bermanfaat bagi mereka. “Dan ingatlah jika kita ikhlas atas segala sesuatu pemberian kepada orang lain apalagi sangat bermanfaat bagi yang menerimanya sesungguhnya Tuhan tak pernah lupa untuk membalasnya.”

 

 

 

 

 

 

Ssekarang saatnya kita bagi-bagikan alat tulis dan sembakonya yaa, pembagian sudah diatur sebelumnya dengan cara mendata berapa jumlah anak dan KK yang ada dan sudah di tuliskan nama-nama dari masing-masing mereka agar tidak terjadi keributan saat pembagian masing-masing dari mereka di panggil satu per satu. Dalam paket-paket tersebut terdiri dari beras, mie, susu, kacang hijau, gula, tas, dan alat tulis yang dibagikan berdasarkan kategori yaitu kategori balita, kategori pelajar, dan rumah tangga.

“Terlihat anak-anak sedang bersekolah dan sedang dibariskan oleh gurunya di depan sekolah, inilah wajah anak-anak yang mengeyam pendidikan di Pulau Bertam,  sekilas tidak ada beda dengan keadaan anak-anak lain tapi jika kita lihat lagi ke belakang bagaimana dulu anak-anak ini sekolah tanpa seragam dan alas kaki, dan bagaimana mereka membantu ayahnya mencari ikan di laut, kalau diceritakan  sungguh menjadi suatu cerita yang mengharukan.”

Ketika hendak pulang

Lihatlah siapa anak-anak ini ?

inikan anak-anak yang tadi, mau kemana mereka ? bukankah mereka tinggal di pulau ini ?
Ternyata tidak, anak-anak ini adalah warga suku laut pulau Gara (adalah pulau tetangga dari pulau Bertam), kini sudah waktunya mereka pulau kerumah masing-masing. Hal inilah yang dilakukan anak-anak pulau Gara jika ingin bersekolah, setiap pagi dan siang mereka mendayung sampan sendiri tanpa didampingi oleh orang tua mereka (sungguh mandiri sekali).

Tekad belajar mereka sungguh luar biasa, bayangkan mereka harus buka sepatu dulu ketika naik sampan agar sepatunya tidak basah terkena air laut, dan nanti turun dari sampan mereka harus memasangnya kembali, ada juga yang selalu menguras air dari sampannya dikarenakan sampainya sudah mulai bocor, ada juga yang kehilangan 1 dayungnya sehingga dia harus mendayung sampan hanya mengandalkan 1 dayung saja, untuk menaiki sampan tidak ada tangga sehingga anak kecil itu harus selalu berhati-hati, berpegangan yang kuat agar tidak jatuh, belum lagi sebagian dari mereka pulang sekolah langsung membantu ayahnya mencari ikan dilaut .

Bagi kita anak-anak seumur mereka seharusnya didampingi oleh orang tuanya yang harus selalu diawasi. Tapi begitulah keadaanya pemberian sembako merupakan hal kecil bagi kita dan hal besar dirasakan oleh mereka, dan ini adalah hal kecil dan biasa bagi mereka tapi sungguh luar biasa bagi kita. Inilah kelebihan mereka, tidak menganggap kekurangan itu menjadi beban, tetapi menjalani apa yang telah ditentukan untuk mereka karena itu adalah suatu perjuangan.
Inilah Indahnya saling Berbagi Untuk Kebersamaan.

 Atas nama Keluarga Besar ILUSKA (Ikatan Alumni SMK Kartini) dan Komunitas Liverpool Batam.
Sabtu, 23 Februari 2013.